Hari Ini:

Kamis 21 September 2017

Jam Buka Toko:

Jam 08.00 s/d 17.00 WIB

Telpon:

0251-7550146

SMS:

+6281210001968

Email:

pumping127@gmail.com

Layanan Online:

Pentingnya Komunikasi dalam Proses Belajar-Mengajar

11 Juli 2014 - Kategori Blog

Oleh: Amir Tengku Ramly

(Penulis Buku ‘Menjadi Guru Idola’ dan Pemerhati Kualitas SDM Pendidikan Indonesia)

 

Pentingnya komunikasi, bukan lagi menjadi perdebatan para ahli. Semua orang sudah bersepakat bahwa kemunikasi sangatlah penting bagi keberlangsungan hidup, hubungan, pekerjaan dan kesuksesan seseorang. Tanpa komunikasi kehidupan akan mati. Juga karena pentingnya komunikasi maka hampir 99 persen manusia menghabiskan aktifitasnya dengan komunikasi.  Demikian juga dalam proses pembelajaran, komunikasi akan menjadi penentu keberhasilan seorang guru dalam mengajar.    Dalam proses belajar-mengajar, komunikasi bukan sekedar penting atau tidak, tetapi komunikasi yang bagaimana (how to) yang memberikan pengaruh baik, bukan hanya pada efektifitas pengajaran, kemampuan anak didik untuk mengerti tetapi komunikasi yang akan berdampak baik pada sikap, perilaku, mental dan cara berpikir di masa depan anak-anak peserta didik.

Komunikasi pada Proses Mengajar

Secara sederhana komunikasi dapat kita artikan sebagai proses seseorang menyampaikan sesuatu yang bermakna dan menginginkan sipenerima mengerti dengan apa yang disampaikannya. Pada proses yang berlangsung biasanya komunikasi menjadi bermasalah  karena   perbedaan dalam menginterpretasikan pesan pada komunikasi yang terjadi.  Proses inilah yang kemudian berdampak pada efektif tidaknya komunikasi seseorang. Secara umum komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang mampu menyampaikan ide dan gagasan atau makna yang ingin dikomunikasi dengan nilai yang sama antara si pemberi dan penerima pesan.  Komunikasi yang efektif sangat penting bagi proses belajar mengajar, karena sebagai proses dimana keberadaan anak didik dengan beragam budaya, latarbelakang keluarga dan perbedaan cara pandang serta kestabilan diri yang masih rentan akan menentukan keberhasilan komunikasi itu sendiri.  Keberhasilan komunikasi dalam proses belajar mengajar tidak hanya ditentukan oleh pihak pengajar (guru) tetapi juga kondisi kesiapan mental anak dalam proses komunikasi belajar-mengajar, disamping juga akan didukung oleh pengkondisian lingkungan dan manajemen sekolah itu sendiri.

Ada beberapa komponen-komponen penting yang menentukan keberhasilan komunikasi dalam proses belajar mengajar, yaitu pertama guru sebagai komunikan dan sumber yang menyampaikan informasi tertentu kepada anak didik. Kedua pengkodean (Encoding) adalah pengirim mengkodean informasi yang akan disampaikan ke dalam symbol atau isyarat. Ketiga pesan (massage), pesan dapat dalam segala bentuk biasanya dapat dirasakan atau dimengerti satu atau lebih dari indra penerima. Keempat saluran (chanel) adalah cara mentrasmisikan pesan, misal kertas untuk surat, udara untuk kata-kata yang diucapkan dan kelima adalah peserta didik sebagai penerima (recaiver) yakni orang yang menafsirkan pesan penerima, jika pesan tidak disampaikan kepada penerima maka komunikasi tidak akan terjadi.  Penafsiran kode (decoding) adalah proses dimana penerima menafsirkan pesan dan menterjemahkan menjadi informasi yang berarti baginya. Jika semakin tepat penafsiran penerima terhadap pesan yang dimaksudkan oleh penerima, Maka semakin efektif komunikasi yang terjadi.  Umpan balik (feedback) adalah pembalikan dari proses komunikasi dimana reaksi komunikasi pengirim dinyatakan.

Proses sederhana diatas, menjadi tidak sederhana pada prakteknya karena adanya gangguan pada massage dan chanel yang terbentuk terkadang menimbulkan distorsi yang penyebabnya sangat beragam dan sangat subjektif.  Misalnya hanya karena seorang peserta didik tidak suka pada cara gurunya tersenyum, mungkin saja kemudian berdampak pada semua komunikasi yang terjadi antara si guru dan peserta didiknya menjadi hambar dan distorsi makna kemana-mana.

Komunikasi Penentu suksesnya Pengajaran Seorang Guru

Ada banyak guru dalam aktifitas yang sama setiap saat, yakni mengajar didepan kelas. Diantara sekian banyak guru mungkin hanya beberapa dimata para peserta didik yang tergolong guru yang menyenangkan, guru yang diidolakan dan senantiasa membuat sang peserta didik ingin diajarkan sang guru tersebut.  Kekuatan seorang guru dalam pengajaran sangat dipengaruhi oleh komunikasi efektif yang dipraktekkan dikelas-kelas.  Peserta didik begitu asik dengan setiap kata dan cerita yang dikembangkan sang guru. Mereka seperti tersirap dalam alunan melodi indah yang mengasikkan. Disaat seperti ini maka pengajaran apapun yang disampaikan sang guru, peserta didik memiliki kemudahan untuk menangkapnya.

Apa rahasianya? Komunikasi yang mampu menciptakan persamaan makna dan rasa yang sama antara guru dan peserta didik yang mengantarkan situasi tersebut. Problem utama komunikasi demikian tidak bisa dipelajari dengan ilmu dan logika, kemampuan tersebut hasil olah dan kreasi mental dan keterampilan berkomunikasi guru yang telah ditempa bertahun-tahun. Menurut pakar American Management Association ada 10 hal mendasar jika ingin berkomunikasi dengan baik, yaitu (1) jelaskan konsep/ide anda sebelum berkomunikasi, (2) pahami tujuan sebenarnya dalam komunikasi, (3) pertimbangkan suasana lingkungan dan waktu, (4)  hubungan antar pihak,  (5) waspada atas nada dan isi berita, (6) komunikasikan seseorang yang membantu dan bernilai bagi penerima, (7) tindak lanjut komunikasi, (8) komunikasi untuk waktu yang akan datang pula, (9) tindakan konsisten dengan kata, dan (10) menjadilah pendengar yang baik.  Jika seorang guru mampu memenuhi 10 hal mendasar tersebut, tentu komunikasi yang dikembangkan dikelas-kelas akan memberi dampak baik pada pengajarannya dan peserta didik.

Hal tersulit dalam komunikasi dengan 10 hal mendasar diatas adalah kemampuan membangun hubungan dengan peserta didik, tindak lanjut komunikasi, konsistensi dan disaat sang guru harus menjadi pendengar yang baik.  Pada beberapa hal mendasar ini guru membutuhkan memahami konsep diri dengan ‘window jauhari’atau teknik SWOT dengan ditambah pemahaman pendekatan psikologi perilaku yang memadai. Jika keberhasilan komunikasi sudah terjalin pada sebuah kelas, hal tersebut belum tentu dapat dipraktekkan pada kelas yang berbeda. Guru membutuhkan kembali kemampuan membangun hubungan antara peserta didik dengan dirinya. Karena perbedaan perilaku dan karakter pada setiap peserta didik, guru dituntut lebih untuk memiliki kemampuan praktek psikologi dasar tentang perilaku manusia.

Komunikasi menjadi sangat penting perannya karena peristiwa memindahkan pengetahuan dari sang guru kepada peserta didik,  peristiwa membentuk perilaku dan moral yang baik, peristiwa belajar setiap harinya semua terjadi hanya lewat komunikasi yang dikembangkan sang guru dengan peserta didik.  Komunikasi akan menjadi jendela jiwa sang guru untuk mampu memahami dan mengendalikan perilaku belajar peserta didik. Dengan menguasai komunikasi yang tepat maka sang guru punya peluang lebih menguasai dan mengendalikan proses belajar mengajar dikelas.

Alamat penulis: amirtengku127@gmail.com.

sumber tulisan: www.amirtengkuramly.com

​​