Hari Ini:

Jumat 15 December 2017

Jam Buka Toko:

Jam 08.00 s/d 17.00 WIB

Telpon:

0251-7550146

SMS:

+6281210001968

Email:

pumping127@gmail.com

Layanan Online:

NYAI SOOSAMMA DAN GERAKAN ANTI FEMINISME

11 Juli 2014 - Kategori Blog

Menyambut Hari Kartini 21 April 2014

Oleh:  Amir Tengku Ramly

 

Nyai Soosamma  meringis sekali lagi, sekali dorongan lagi dan bayinya lahirlah kedunia; sempurna, mungil  dan  bergetar.   Dukun beranak desa mengangkat bayi itu, menelitinya dan mengumumkan, ‘perempuan lagi”.  Anak perempuan kedua Soosamma.  Hanya terlahir seorang anak perempuan, jika saja bayinya seorang laki-laki, beritanya akan diumumkan dengan gembira serta akan ada hadiah, perayaan dan soosamma akan dibanjiri pujian.  Tetapi seorang anak perempuan kedua berarti kekecewaan kedua, bahkan bagi si dukun beranak.  Karena dengan mebantu kelahiran anak perempuan, berarti hanya memperoleh satu lembar uang 20 ribu rupiah sebagai ucapan terimakasih atas persalinan itu, dan bukan satu lembaran uang 50 ribu rupiah seperti biasanya bila yang lahir bayi laki-laki.

Dalam menyambut kedewasaannya pun, antara manusia laki dan perempuan telah disiapkan syair bagi keduanya yang berbeda.  Nyai Soosamma,  dalam menyambut bayi laki-lakinya menuju dewasa selalu bersenandung:

Ketika engkau besar… Engkau akan merawat rumah, harta benda.  Dan melindungi ibu dan saudara perempuanmu”.    Juga bagi sang bayi perempuan “Ketika engkau besar mungkin engkau akan mendapatkan seorang suami yang kaya dan baik.  Dan ingat kami semua di sini di rumah.  Dan terus membantu kami”

Munculnya Gerakan Perempuan

Sejak isu “perempuan”  menjadi bagian penting agenda politik dan sosial global di tahun 1960-an, pertanyaan pun muncul, apakah kita bisa secara sah berbicara tentang perempuan. Karena dengan memandang perempuan  sebagai suatu kelompok, pertanyaan yang muncul tersebut, menjadi penting untuk dicermati. Di masyarakat manapun di dunia ini, pembedaan yang dilekatkan kepada perempuan baik secara individu ataupun kelompok, lebih ditentukan oleh latarbelakang/kontruksi sosial-budaya dari tempat perempuan itu tumbuh dan berkembang. Pengalaman dan harapan seorang ibu tunggal atau lebih populer dengan sebutan perempuan kepala rumah tangga (single parent) berkulit hitam yang hidup  di suatu wilayah dalam kota, mungkin lebih sederhana, bila dibandingkan  dengan perempuan kulit putih yang menjadi istri seorang bankir kaya, dan betempat tinggal di pinggiran kota. Bagaimana istilah “saudara perempuan” bisa digunakan terhadap segala situasi, selain ironi yang dihadapkan pada struktur hirarki antar perempuan itu sendiri yang berbeda statusnya ?

Jika perempuan “diposisikan”  secara berbeda dalam masyarakatnya atas dasar kelas dan suku mereka, maka terdapat faktor-faktor yang menyatukan perempuan sebagai satu kelompok gender.  Untuk memahami gender dalam konteks perjuangan melawan bentuk-bentuk penindasan lainya,  pertama-tama kita harus lebih memahami warisan dan ketidakadilan yang ditinggalkan oleh kolonisasi dan sebagian pranata pasca kolonial yang menyusun hubungan-hubungan termasuk hubungan gender (laki-laki dan perempuan secara sosial budaya) di dunia modern.  Perjuangan kelas, nasionalisme dan etnis telah mendominasi sejarah pasca kolonial  di sebagian besar bangsa di dunia.   Bagaimana gender diperlakukan dalam konteks isu-isu yang lainnya,  dan bagaimana gerakan perempuan itu dijalankan dengan  berkeyakinan pada keadilan gender sebagai bagian fundamental dari masyarakat  yang baru merdeka?

 

Paham Penindasan

Rasisme, kelas dan seksisme membangkitkan protes rakyat di seluruh dunia.  Di Amerika Utara gerakan Black Power  berkembang  dari civil rights movement  (Gerakan Hak-Hak Warganegara).

Walaupun feminisme memiliki banyak akarnya-misalnya dalam gerakan perempuan abad ke-19,  dalam cita-cita revolusi perancis, dan karya-karya  penulis seperti  Mary Woolstonecrof, sebagian ahli sejarah melihat  gerakan feminisme  kontemporer lahir dari antirasisme, yang menuntut bahwa “tanpa persaudaraan (sisterhood) kulit hitam, tidak akan ada persaudaraan”.

Di berbagai negara di belahan dunia, gerakan-gerakan rakyat yang revolusioner memperioritaskan pelbagai aspek keadilan sosial. Dalam perlawanannya terhadap rezim militer yang represif, di Amerika Latin gerakan revolusioner dengan ideologi sosialis menjadi gerakan rakyat yang paling berhasil.   Di Afrika Selatan, perjuangan adalah menentang apartheid  dan rasisme.  Di India terjadi protes rakyat melawan  sistem dan eksploitasi kasta maupun kesukuan  yang telah mengakar.

Sumber-sumber penindasan diberbagai negara di dunia ini, telah menyadarkan perempuan  untuk mengambil posisi tersendiri dalam masyarakatnya.   Menyusul  berbagai peristiwa, sejarah mencatat tentang berbagai bentuk perjuangan membela hak penindasan terhadap perempuan, baik yang dilakukan oleh kelompok-kelompok  pembelaan hak-hak perempuan dibawah kepemimpinan kaum perempuan sendiri maupun dibawah kepemimpinan kaum laki-laki.

Moment Kartini sebagai Satu Moment dalam Menghadapi Era Non Gender

Berkaitan dengan beragam gerakan menentang penindasan di atas, era globalisasi merupakan era yang memperlakukan segala sesuatu berdasarkan standar kualitas dan prestasi, persoalan gender sebagai persoalan utama yang menghambat kemajuan kaum perempuan dengan sendirinya akan mengalami pergeseran pemahaman dan perlakuan.

Langkah pertama yang patut kita lakukan adalah menghilangkan “image”  dengan tidak membicarakannya sebagai fokus utama. Isu gender akan tetap menjadi persoalan apabila secara terus menerus dianggap sebagai sumber persoalan yang menghiasi tema-tema diskusi keperempuanan. Terutama kaum perempuan sendiri harus sudah berani melaju diatas kemajuan dunia dengan tidak membawa masalah dirinya sebagai ‘parasit’ kemajuan.

Era 2020 harus diterjemahkan sebagai era dimana hakekat dan keberadaan  manusia dipengaruhi kemampuan dalam mewujudkan diri sebagai pribadi yang memiliki ‘kecenderungan bagi manusia lain’ (manusia utuh). Penterjemahan ini memberikan nuansa berbeda bagi setiap orang terutama kalangan perempuan, dalam melakukan kiprahnya sebagai wujud eksistensi keberadaan dirinya secara utuh.

Peran sosial perempuan ke depan harus diterjemahkan sebagai era aktualisasi diri kaum perempuan yang memiliki tantangan ‘moderat’ dengan kesempatan berprestasi yang lebih besar dan bebas dari kekangan (tekanan) pihak-pihak lain. Peran sosial di era kompetisi global adalah ‘histories setting’ bagi pergerakan perempuan dalam melakukan aktivitas sosial dan politiknya secara optimal dan fokus pada kepentingan manusia lain, tidak saja untuk perempuan itu sendiri tapi juga bagi manusia tertindas lainnya.

Oleh karenanya, dengan tidak mengurangi esensi dari makna perjuangan kaum perempuan dalam memperjuangkan hak-hak kemanusianya. Dalam moment Kartini ini, baik kaum perempuan ataupun laki-laki harus mulai berani untuk lebih menunjukan kualitas dan kemampuannya, serta bersama-sama dalam mewujudkan kehidupan manusia yang adil dan utuh. Bukan hanya sekedar peringatan ritual tanpa makna, yang tidak berimplikasi pada tindakan kongkret dan perbaikan hidup ummat manusia secara keseluruhan.

Isi Komentar


​​