Hari Ini:

Kamis 23 November 2017

Jam Buka Toko:

Jam 08.00 s/d 17.00 WIB

Telpon:

0251-7550146

SMS:

+6281210001968

Email:

pumping127@gmail.com

Layanan Online:

Guru Harus Mampu Pahami Peserta Didik

16 Juli 2014 - Kategori Blog
Monday, 09 March 2009
PALEMBANG– Menjadi guru yang memiliki energi positif (Epos), harus mempunyai pola hubungan dengan peserta didiknya dengan cara melakukan ramah tama dengan siswa-siswinya, memecahkan kebekuan peserta didik dalam efektifitas pengajaran seorang guru dan menghilangkan penat dan kesusahan serta kesulitan belajar yang dialami peserta didiknya .

‘’ Dalam pola hubungan seorang guru harus mampu memahami peserta didiknya secara prilaku dan karakter siswa-siswinya,’’ jelas Motivator pendidikan Indonesia sekaligus Direktur utama Pumping Indonesia, Amir Tengku Ramly, dihadapan 300 peserta seminar Pumping Teacher, Sabtu (7/3) di Aula Handayani Disdik Provinsi Sumsel.

Menurutnya, kekuatan pancaindra seorang guru pada dasarnya berpengaruh dalam prilaku emosi seorang guru saat menghadapi peserta didiknya. Penglihatan ini katanya, sangat berpengaruh pada ekspresi diri dalam sebuah pola hubungan yang dibina guru dengan peserta didiknya.

“ Dalam hal ini, jika guru sudah mempunyai jiwa sebagai pendidik, guru tersebut bisa melihat dan membaca pikiran peserta didiknya walaupun hanya melihat dari sorot mata, apakah rasa sayang, amarah, bahagia, terkejut, kaget, cemas, sedih, malu serius atau perasaan lain yang terjadi pada siswanya,” jelas Amir

Dikatakannya, kekuatan logika otak kiri guru yang didominasi fungsi berfikir umumnya belajar dan bekerja atas dasar logika, objektifitas dan analisis. Menurutnya otak kiri menyebabkan manusia lebih bersikap impersonal, menjunjung tinggi logika, berusaha menemukan kriteria objektif sebelum memutuskan sesuatu.

Sedangkan untuk kekuatan imajinasi otak kanan, lanjutnya, merupakan sebuah jalan untuk merasakan, menyerap informasi, memperoleh data, dan fakta.”Guru yang tergolong intuitif umumnya memiliki kemampuan belajar mengenai suatu hal yang bersifat abstrak yang terkadang berupa symbol-simbol, anehnya,’’ ungkapnya.

Sementara, ketua pelaksana Drs Budi Santoso Msi didampingi anggota panitia Dra Ema Nurnisya Putri mengatakan, jika seorang guru mengetahui sifat dan karakter siswanya akan memudahkan seorang guru melakukan penerapan dan pemahaman materi pelajaran yang diberikan. Dikatakannya, kegiatan ini bertujuan untuk memompa potensi yang ada dalam diri guru dalam memahami sifat dan tingkah laku yang dimiliki siswanya. (mg21)

​​